AMOS Ancaman Nyata Pengguna Mac – Dalam lanskap ancaman siber modern, perangkat lunak berbahaya jenis infostealer seperti Atomic MacOS Stealer (AMOS) telah berkembang melampaui sekadar malware mandiri.

Kini, mereka merupakan komponen fondasi dari ekonomi kejahatan siber yang sangat matang, yang dibangun khusus untuk memanen, memperdagangkan, dan mengoperasionalkan identitas digital yang dicuri.

Bukannya menjadi tujuan akhir, infostealer modern berfungsi sebagai mesin pengumpul data skala besar yang memasok pasar bawah tanah (underground market).

Di sana, kredensial, sesi aktif, dan data finansial diperjualbelikan untuk memicu pengambilalihan akun, penipuan, hingga intrusi lanjutan ke jaringan perusahaan besar.

Mengubah Infeksi Menjadi Komoditas

Infostealer beroperasi sebagai salah satu pengaktif paling kritis dalam rantai serangan siber (kill chain) karena kemampuannya mengubah satu infeksi tunggal menjadi kompromi identitas berskala luas.

Begitu dijalankan di mesin korban, malware ini akan dengan cepat melakukan enumerasi terhadap:

  • Peramban (Browser): Mencuri kata sandi yang tersimpan dan session cookies.
  • Dompet Kripto: Menguras kunci akses dan data aset digital.
  • Aplikasi Pesan: Mengambil riwayat percakapan dan token autentikasi.
  • File Lokal: Mencari dokumen sensitif, kunci SSH, dan informasi sistem.

Data yang terkumpul kemudian dikirimkan ke infrastruktur milik penyerang dalam bentuk “stealer logs”, yang nantinya akan dipilah dan dijual kembali kepada aktor ancaman lain.

Baca juga: Perbedaan Penggunaan VPN vs Proxy

Mengeksploitasi Demam AI

Salah satu taktik paling licik yang ditemukan oleh para peneliti baru-baru ini adalah kampanye ClawHavoc. Serangan ini menargetkan ekosistem OpenClaw dan ClawHub,

Yang merupakan asisten AI pribadi yang sangat populer saat ini. Penyerang melakukan “peracunan” pada pasar keahlian (skill marketplace) AI tersebut.

Distributor AMOS memanfaatkan antusiasme pengguna terhadap teknologi AI. Mereka mengunggah modul tambahan (add-ons) yang tampak sah, seperti alat produktivitas, integrasi Google Workspace, atau bantuan YouTube.

Namun, di balik fungsionalitasnya, modul tersebut membungkus malware AMOS. Saat pengguna tergesa-gesa menginstalnya untuk meningkatkan produktivitas, AMOS secara diam-diam mencuri identitas dan data sensitif mereka.

Sejarah dan Model Bisnis Malware-as-a-Service (MaaS)

AMOS pertama kali terdeteksi pada Mei 2023 melalui sebuah saluran Telegram. Sejak awal, pengembangnya secara terang-terangan mengiklankan kemampuan malware ini, termasuk mengeksfiltrasi gantungan kunci (keychain) Mac, kata sandi sistem, hingga data peramban.

Pada masa awal kemunculannya, akses ke malware ini disewakan seharga $1.000 (sekitar Rp15,7 juta) per bulan, yang dibayar menggunakan mata uang kripto seperti USDT atau Bitcoin. Model ini menciptakan ekosistem di mana:

  1. Pengembang: Fokus memperbaiki fitur malware dan menghindari deteksi.
  2. Distributor: Membeli akses malware dan berkreasi menciptakan metode penyebaran (seperti iklan palsu atau tautan phishing).
  3. Konsumen Log: Pihak ketiga yang membeli hasil curian untuk melakukan pembobolan bank atau serangan ransomware.

Dari LastPass hingga ChatGPT

Para peneliti mencatat bahwa distributor AMOS sangat adaptif terhadap tren teknologi. Beberapa kampanye menonjol meliputi:

  • Penyerang membuat aplikasi palsu yang meniru lebih dari 100 merek perangkat lunak terkenal di GitHub. Mereka menggunakan teknik SEO Poisoning pada Google dan Bing agar pengguna yang mencari solusi keamanan justru mengunduh repositori berbahaya mereka.
  • Pada akhir 2025, ditemukan kampanye yang menggunakan fitur berbagi percakapan (shared chat) milik ChatGPT. Penyerang menghosting “panduan instalasi” palsu langsung di domain tepercaya chatgpt.com. Korban diarahkan melalui iklan berbayar untuk menjalankan perintah terminal satu baris yang sebenarnya adalah perintah untuk mengunduh dan menjalankan AMOS.
  • Alih-alih mengeksploitasi celah teknis sistem macOS yang sulit, penyerang menggunakan rekayasa sosial untuk meyakinkan pengguna agar menjalankan perintah sendiri di Terminal Mac mereka, dengan dalih sebagai bagian dari proses instalasi perangkat lunak populer seperti Photoshop atau Microsoft Office.

Baca juga: Bahaya Siber Mengintai Fans Olimpiade

Lanskap Ancaman AMOS di Indonesia

Lanskap ancaman AMOS dan infostealer memiliki dampak signifikan bagi pengguna di Indonesia:

1. Budaya “Instan” dan Perangkat Lunak Bajakan

Pengguna internet di Indonesia sering kali mencari cara cepat untuk mendapatkan perangkat lunak mahal secara gratis. Distributor AMOS memanfaatkan perilaku ini dengan menyisipkan malware ke dalam penginstal aplikasi bajakan.

Mengingat tingginya penggunaan macOS di kalangan profesional kreatif di Indonesia, risiko kehilangan data portofolio dan aset kripto sangatlah nyata.

2. Ancaman terhadap Identitas Digital Korporat

Banyak perusahaan di Indonesia mulai beralih sepenuhnya ke layanan SaaS. Satu “stealer log” dari perangkat karyawan yang terinfeksi AMOS dapat memberikan akses langsung bagi peretas ke sistem internal perusahaan melalui session cookies, tanpa perlu melewati autentikasi dua faktor (MFA) yang berbasis SMS atau aplikasi.

3. Urgensi Pemantauan Dark Web

Kasus AMOS menunjukkan bahwa pertahanan tidak cukup hanya di tingkat perangkat. Organisasi di Indonesia perlu mulai mempertimbangkan layanan pemantauan pasar gelap.

Yakni untuk mendeteksi jika kredensial karyawan mereka sudah mulai diperjualbelikan di saluran Telegram atau forum bawah tanah sebelum serangan nyata terjadi.

Langkah Mitigasi dan Pencegahan

Para peneliti menekankan bahwa karena infostealer mengandalkan rekayasa sosial, maka pencegahan utama ada pada kesadaran pengguna:

  • Jangan pernah menyalin dan menempelkan perintah ke dalam Terminal macOS dari situs yang tidak tepercaya.
  • Dan pastikan aplikasi tersebut memiliki fitur peringatan jika kredensial Anda ditemukan dalam kebocoran data.
  • Selalu unduh perangkat lunak dari App Store resmi atau situs vendor yang terverifikasi.
  • Secara berkala, lakukan “log out” dari semua sesi aktif di akun penting untuk membatalkan kegunaan session cookies yang mungkin telah dicuri.

AMOS bukan sekadar masalah teknis bagi pengguna Mac; ia adalah penggerak utama dalam industri data curian global.

Di tahun 2026, tantangan terbesar bukan lagi melawan virus yang merusak sistem, melainkan melawan taktik manipulasi psikologis yang membuat kita memberikan kunci digital kita secara sukarela kepada penjahat siber.

 

 

Baca artikel lainnya: 

 

 

Sumber berita:

 

Prosperita IT news