Risiko Ancaman Orang Dalam di Perusahaan

Image credit: Magnific

Risiko Ancaman Orang Dalam di Perusahaan – Ketika membicarakan serangan siber, perhatian perusahaan biasanya tertuju pada ancaman dari luar: ransomware, malware, eksploitasi kerentanan, pencurian password, atau serangan terhadap server dan jaringan. Perimeter perusahaan diperkuat, firewall dipasang, endpoint dilindungi, dan aktivitas dari Internet dipantau.

Namun, ada satu pertanyaan yang sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama: Bagaimana jika akses yang digunakan untuk menyerang perusahaan berasal dari dalam? Inilah yang dikenal sebagai insider threat atau ancaman dari pihak internal.

Ancaman ini menjadi unik karena pelakunya tidak selalu harus “membobol” sistem. Dalam banyak situasi, mereka sudah memiliki akses yang sah. Mereka mungkin seorang karyawan, kontraktor, administrator, mitra, atau pihak lain yang memang diberikan hak akses untuk menjalankan pekerjaannya.

CISA menjelaskan bahwa insider threat muncul karena organisasi memberikan kepercayaan dan akses kepada individu untuk menjalankan berbagai fungsi bisnis. Akses yang sama dapat disalahgunakan untuk menyebabkan kerusakan, pencurian, atau kompromi terhadap aset organisasi.

Insider Threat Tidak Selalu Berarti Karyawan Jahat

Salah satu kesalahan dalam memahami insider threat adalah menganggap pelakunya pasti karyawan yang sengaja ingin mencuri atau merusak data perusahaan.

Padahal, risiko internal memiliki beberapa bentuk. Secara sederhana, perusahaan dapat menghadapi:

  • Malicious insider – orang dalam yang sengaja menyalahgunakan akses untuk keuntungan pribadi, membalas perusahaan, mencuri data, atau membantu pihak luar.
  • Negligent insider – pengguna yang tidak berniat jahat tetapi melakukan tindakan berisiko, misalnya mengirim dokumen sensitif ke alamat yang salah atau menggunakan perangkat yang tidak aman.
  • Compromised insider – akun atau identitas karyawan yang berhasil diambil alih oleh penyerang sehingga aktivitas berbahaya terlihat seperti aktivitas pengguna yang sah.
  • Third-party insider – kontraktor, vendor, konsultan, atau pihak lain yang memiliki akses ke sistem perusahaan dan kemudian menjadi sumber risiko.

Dengan demikian, insider threat tidak selalu berhubungan dengan niat buruk. Akses yang sah ditambah perilaku yang salah sudah cukup untuk menciptakan risiko.

Baca juga: Serangan Rantai Pasok Incar Jantung Pengembangan Aplikasi

Ketika Mantan Karyawan Masih Menjadi Masalah

Salah satu situasi yang harus mendapat perhatian khusus adalah ketika seorang karyawan meninggalkan perusahaan. Secara administratif, hubungan kerja mungkin sudah berakhir. Namun dari sisi keamanan, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah seluruh aksesnya benar-benar sudah dihentikan?

Akun email, VPN, cloud, aplikasi bisnis, repository kode, database, perangkat, API key, token, maupun akun administrator harus diperiksa dan dinonaktifkan sesuai kebutuhan.

Kasus Origin Energy di Australia pada 2026 memperlihatkan mengapa persoalan ini penting. Perusahaan tersebut mengungkap insiden yang berdampak pada sekitar dua juta profil pelanggan, sementara laporan mengenai kasus itu menyebut kredensial mantan karyawan diduga digunakan dalam akses tidak sah.

Kasus seperti ini memberikan pelajaran sederhana: Offboarding bukan hanya urusan HR. Offboarding juga merupakan proses keamanan siber.

Risiko Terbesar dari Hak Akses yang Terlalu Besar

Bayangkan seorang karyawan hanya membutuhkan akses ke data penjualan wilayah Jawa Barat. Namun, karena konfigurasi sistem tidak dikelola dengan baik, akun tersebut ternyata dapat mengakses:

  • Data pelanggan seluruh indonesia,
  • Database keuangan,
  • Dokumen internal,
  • Sistem produksi,
  • Dan berbagai aplikasi lainnya.

Jika akun tersebut disalahgunakan, masalahnya bukan hanya perilaku pengguna. Masalahnya adalah perusahaan memberikan akses yang jauh lebih besar daripada yang diperlukan.

Prinsip least privilege menjadi sangat penting dalam situasi ini. Setiap pengguna seharusnya memperoleh akses minimum yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya. Ketika kebutuhan pekerjaan berubah, hak akses juga harus ditinjau dan disesuaikan.

Jangan Menunggu Insider Threat Terjadi

Perusahaan tidak harus menunggu adanya pencurian data untuk mengetahui bahwa sistemnya memiliki risiko internal. Ada beberapa aktivitas yang seharusnya menjadi perhatian, terutama jika berbeda secara signifikan dari pola kerja normal.

Contohnya:

  1. Karyawan mengakses data yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya.
  2. Akun melakukan login pada waktu yang tidak biasa.
  3. Terjadi pengunduhan data dalam jumlah besar.
  4. Banyak file sensitif dipindahkan dalam waktu singkat.
  5. Pengguna mencoba mengakses sistem yang sebelumnya tidak pernah digunakan.
  6. Terjadi aktivitas dari perangkat atau lokasi yang tidak biasa.
  7. Akun mengakses berbagai sumber daya perusahaan secara berurutan dalam waktu singkat.

Satu indikator belum tentu berarti serangan. Seorang administrator memang mungkin membutuhkan akses luas. Seorang karyawan yang sedang menyelesaikan proyek juga mungkin mengunduh banyak dokumen.

Karena itu, perusahaan tidak boleh sekadar mencari aktivitas aneh, tetapi harus memahami konteks aktivitas tersebut. Inilah alasan monitoring dan analisis perilaku pengguna menjadi penting.

Baca juga: Operasi Senyap di Asia Bawa Malapetaka

Teknologi Saja Tidak Cukup

Insider threat tidak dapat diselesaikan hanya dengan memasang firewall atau antivirus. Perusahaan membutuhkan pendekatan berlapis yang menggabungkan: People + Process + Technology.

1. People

Karyawan harus memahami bahwa keamanan merupakan bagian dari pekerjaan mereka. Pelatihan sebaiknya tidak hanya membahas phishing atau password, tetapi juga:

  • Klasifikasi data.
  • Penggunaan perangkat perusahaan.
  • Penggunaan cloud storage.
  • Pengiriman dokumen.
  • Penggunaan ai.
  • Penggunaan media penyimpanan eksternal.
  • Serta prosedur pelaporan aktivitas mencurigakan.

2. Proses

Perusahaan harus memiliki prosedur yang jelas untuk:

  • Onboarding karyawan,
  • Perubahan jabatan,
  • Perubahan hak akses,
  • Offboarding,
  • Akses vendor,
  • Peminjaman perangkat,
  • Pengelolaan akun privileged,
  • Dan pelaporan insiden.

CISA sendiri menyediakan panduan khusus mengenai peran HR dalam mitigasi insider threat karena HR memiliki informasi penting mengenai perubahan status dan pola yang berkaitan dengan personel.

3. Technology

Lapisan teknologi dapat mencakup:

  • Multi-Factor Authentication (MFA)
  • Identity and Access Management (IAM)
  • Privileged Access Management (PAM)
  • Data Loss Prevention (DLP)
  • Endpoint Detection and Response (EDR)
  • Security Information and Event Management (SIEM)
  • User and Entity Behavior Analytics (UEBA)
  • Network monitoring
  • Data classification
  • Encryption

Tujuannya bukan untuk “memata-matai karyawan”, tetapi memastikan bahwa akses terhadap aset penting dapat dikontrol dan aktivitas berisiko dapat terdeteksi lebih awal.

Shadow AI Menjadi Risiko Internal Baru

Perkembangan AI juga menciptakan bentuk risiko internal yang relatif baru. Karyawan mungkin menggunakan layanan AI untuk mempercepat pekerjaan. Masalah muncul ketika mereka memasukkan informasi perusahaan ke dalam layanan AI yang tidak disetujui organisasi.

Misalnya:

  • Kontrak pelanggan,
  • Source code,
  • Laporan keuangan,
  • Proposal bisnis,
  • Data pribadi,
  • Kredensial,
  • Atau dokumen internal.

Laporan terbaru mengenai risiko internal pada 2026 menyoroti meningkatnya penggunaan shadow AI, yaitu penggunaan layanan AI tanpa pengawasan organisasi. Risiko ini tidak selalu muncul karena niat buruk; sering kali karyawan hanya ingin menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

Inilah contoh penting bahwa insider threat tidak selalu berarti seseorang ingin menyerang perusahaan. Terkadang, karyawan hanya tidak mengetahui bahwa tindakannya dapat menyebabkan data perusahaan keluar dari lingkungan yang seharusnya.

Baca juga: Ancaman Kloning Suara dalam Penipuan Bisnis

Perusahaan Perlu Mendeteksi Bukan Mencurigai

Ada perbedaan besar antara security monitoring dan mencurigai karyawan. Tujuan monitoring bukan mencari kesalahan setiap pengguna, tujuannya adalah mengetahui ketika sebuah identitas melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan konteks normalnya.

Misalnya, seorang staf keuangan tiba-tiba mengakses repository source code perusahaan pada pukul 02.00, kemudian mengunduh ratusan file. Sistem keamanan seharusnya dapat memberikan sinyal, bukan berarti staf tersebut langsung dianggap melakukan kejahatan. Aktivitas tersebut harus diperiksa.

  • Mungkin ada pekerjaan lembur.
  • Mungkin ada kesalahan konfigurasi.
  • Mungkin akunnya telah diambil alih.
  • Atau mungkin memang terjadi penyalahgunaan akses.

Deteksi memberikan kesempatan untuk mencari jawabannya sebelum kerusakan menjadi lebih besar.

Terapkan Zero Trust terhadap Akses Internal

Berada di dalam jaringan perusahaan tidak seharusnya otomatis berarti dipercaya, konsep Zero Trust mengubah pendekatan tersebut menjadi:

“Never trust, always verify.”

Setiap akses harus dievaluasi berdasarkan identitas, perangkat, konteks, lokasi, tingkat risiko, dan kebutuhan akses. Dengan pendekatan ini, seorang pengguna yang sudah berhasil login belum tentu mendapatkan akses ke seluruh sistem.

Jika aksesnya hanya diperlukan untuk satu aplikasi, maka hanya aplikasi tersebut yang diberikan. Jika akses administrator hanya diperlukan selama 30 menit untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu, akses tersebut dapat dibatasi berdasarkan waktu.

Semakin kecil hak akses yang tersedia, semakin kecil pula dampak ketika akun tersebut disalahgunakan.

Bagaimana Perusahaan Mengurangi Risiko Insider Threat?

Beberapa langkah berikut dapat menjadi dasar program mitigasi:

  1. Inventarisasi akses. Ketahui siapa yang memiliki akses ke sistem dan data penting.
  2. Terapkan least privilege. Berikan akses sesuai kebutuhan pekerjaan, bukan berdasarkan jabatan semata.
  3. Gunakan MFA. Lindungi akun penting dengan autentikasi tambahan.
  4. Kelola privileged account. Akun administrator harus mendapatkan pengawasan dan kontrol yang lebih ketat.
  5. Review akses secara berkala. Hak akses yang diberikan enam bulan lalu belum tentu masih diperlukan hari ini.
  6. Perkuat proses offboarding. Ketika seseorang meninggalkan perusahaan, akses digital harus dihentikansecara terkoordinasi.
  7. Monitor aktivitas berisiko. Pantau pola akses, pengunduhan, perpindahan data, dan penggunaan sistem.
  8. Lindungi data sensitif. Gunakan klasifikasi data, enkripsi, DLP, serta kontrol akses.
  9. Edukasi karyawan. Jelaskan bukan hanya apa yang dilarang, tetapi juga mengapa tindakan tersebut berisiko.
  10. Siapkan prosedur respons. Ketika ditemukan indikasi insider threat, perusahaan harus mengetahui siapa yang harus bertindak, sistem apa yang perlu diamankan, dan bagaimana bukti harus dipertahankan.

CISA juga menyediakan Insider Risk Mitigation Program Evaluation untuk membantu organisasi menilai kesiapan program mitigasi insider threat mereka.

 

 

Baca artikel lainnya:

 

Sumber berita:


Prosperita IT News