Air Gap Tak Kebal Serangan Siber

Image credit: Magnific

Menerobos Benteng Air Gap – Bayangkan sebuah serangan siber melumpuhkan jaringan listrik di suatu wilayah. Aktivitas perkantoran terhenti, transportasi terganggu, dan masyarakat kehilangan akses ke berbagai layanan yang bergantung pada pasokan listrik.

Dalam situasi seperti ini, pemulihan tidak hanya bergantung pada ketersediaan cadangan data, tetapi juga pada kemampuan operator untuk mengendalikan dan memulihkan sistem operasional.

Risiko tersebut menjadi perhatian penting bagi pengelola infrastruktur kritis, seperti pembangkit listrik, jaringan transportasi, fasilitas kesehatan, dan sistem pengelolaan air.

Sistem yang menjalankan fungsi-fungsi tersebut semakin terhubung dengan jaringan teknologi informasi untuk mendukung pemantauan, efisiensi, dan pengelolaan jarak jauh. Namun, konektivitas juga dapat membuka jalur baru bagi penyerang.

Salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko tersebut adalah air gap, yaitu pemisahan fisik sistem atau jaringan dari jaringan eksternal, termasuk internet. Pendekatan ini membatasi jalur serangan yang dapat digunakan untuk menjangkau sistem yang dilindungi.

Meski demikian, air gap bukan jaminan keamanan mutlak. Sejumlah insiden menunjukkan bahwa sistem terisolasi masih dapat disusupi ketika berkas, perangkat penyimpanan, atau aktivitas manusia menjadi penghubung antara lingkungan yang terisolasi dan jaringan yang terhubung.

Apa Itu Air Gap?

Air gap merupakan metode keamanan yang memisahkan sistem atau jaringan secara fisik dari jaringan lain yang tidak tepercaya. Sistem di dalam lingkungan tersebut masih dapat berkomunikasi satu sama lain, tetapi tidak memiliki koneksi jaringan ke lingkungan eksternal.

Sebagai contoh, organisasi dapat memisahkan jaringan teknologi operasional (operational technology atau OT) dari jaringan teknologi informasi perusahaan (information technology atau IT). Jaringan OT digunakan untuk memantau dan mengendalikan perangkat fisik, seperti mesin industri, sensor, dan pengendali otomatis.

Dengan pemisahan fisik, penyerang tidak dapat langsung menjangkau sistem OT melalui koneksi internet yang tersedia pada jaringan perusahaan. Akan tetapi, pemisahan tersebut harus benar-benar diterapkan pada seluruh jalur komunikasi.

Sistem yang tidak terhubung melalui kabel jaringan, tetapi masih memiliki Wi-Fi, modem seluler, atau koneksi nirkabel lain, belum tentu dapat dianggap sepenuhnya terisolasi.

Air gap juga berbeda dari segmentasi jaringan. Segmentasi membagi jaringan menjadi beberapa zona dan mengatur komunikasi di antaranya menggunakan firewall, aturan akses, serta mekanisme pengawasan. Air gap secara fisik memutus koneksi jaringan antara lingkungan yang dipisahkan.

Keduanya dapat digunakan bersama sebagai bagian dari strategi pertahanan berlapis. Segmentasi membantu membatasi pergerakan penyerang di dalam jaringan, sedangkan air gap menghilangkan jalur komunikasi jaringan langsung menuju lingkungan yang benar-benar diisolasi.

Baca juga: Melacak Jejak Panggilan Penipuan yang Semakin Canggih

Sistem Terisolasi Tetap Bisa Diserang

Salah satu kesalahpahaman tentang air gap adalah anggapan bahwa sistem yang tidak terhubung ke internet otomatis aman. Padahal, sistem tersebut masih memerlukan pemeliharaan, pembaruan perangkat lunak, dan pertukaran data. Proses-proses ini dapat menciptakan jalur masuk bagi ancaman.

1. Stuxnet: Malware Menembus Sistem Terisolasi

Pada 2010, dunia keamanan siber dikejutkan oleh Stuxnet, malware yang dirancang untuk menargetkan sistem kendali industri. Serangan ini dikaitkan dengan fasilitas nuklir Iran dan memanfaatkan beberapa teknik untuk menjangkau sistem yang tidak terhubung langsung ke internet.

Perangkat USB menjadi salah satu jalur penting dalam penyebarannya. Media penyimpanan yang terinfeksi dapat membawa malware ke lingkungan yang terisolasi ketika digunakan pada komputer di dalam jaringan tersebut.

Setelah masuk, Stuxnet mampu menyebar di antara sistem yang dapat dijangkaunya dan memanipulasi pengendali industri tertentu. Kasus ini menunjukkan bahwa pemisahan jaringan dapat kehilangan efektivitas apabila media penyimpanan yang digunakan untuk memindahkan data tidak dikendalikan dengan baik.

2. GoldenJackal: Memanfaatkan USB untuk Menjembatani Jaringan

Pada 2024, peneliti ESET mengungkap rangkaian serangan GoldenJackal terhadap organisasi pemerintah di Eropa. Aktivitas yang diteliti berlangsung pada 2019 serta periode Mei 2022 hingga Maret 2024.

Kelompok tersebut menggunakan seperangkat perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk bekerja di lingkungan dengan konektivitas terbatas, termasuk jaringan yang terisolasi dari internet.

Salah satu perangkatnya, GoldenDealer, dapat membantu memindahkan komponen berbahaya melalui USB. Perangkat lain, GoldenRobo, digunakan untuk mengumpulkan dan mengeluarkan berkas dari sistem yang ditargetkan, sedangkan GoldenHowl merupakan pintu belakang modular dengan berbagai kemampuan.

Secara umum, mekanismenya memanfaatkan perpindahan USB antara komputer yang terhubung ke jaringan dan komputer di lingkungan terisolasi. Malware dapat mengumpulkan informasi atau membawa komponen berbahaya ketika media tersebut digunakan di lingkungan terisolasi.

Setelah USB kembali ke komputer yang terhubung, data dapat dikirim keluar atau komponen tambahan dapat diambil untuk digunakan pada tahap berikutnya.

Pendekatan modular ini memungkinkan berbagai komputer menjalankan fungsi berbeda dalam satu rangkaian serangan. Karena itu, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pada koneksi internet. Aktivitas penggunaan USB, pemindahan berkas, dan proses pembaruan juga perlu diperiksa.

Mengapa Air Gap Penting bagi Infrastruktur Kritis?

Penerapan air gap dapat membantu mengurangi risiko pada sistem yang membutuhkan tingkat perlindungan tinggi. Namun, penerapannya harus mempertimbangkan kebutuhan operasional.

  • Energi dan manufaktur: Sistem kendali industri perlu terlindungi dari akses tidak sah yang dapat mengganggu proses produksi atau distribusi energi.
  • Transportasi: Sistem persinyalan kereta, pengendali lalu lintas, dan pengelolaan pelabuhan harus mempertahankan keandalan serta keselamatan operasional.
  • Fasilitas kesehatan: Sistem tertentu yang menyimpan data atau mengendalikan peralatan medis mungkin membutuhkan pembatasan konektivitas yang ketat, tanpa menghambat layanan kepada pasien.
  • Layanan publik: Infrastruktur pengelolaan air, pengendalian banjir, dan utilitas lainnya perlu mengendalikan akses jarak jauh serta hubungan dengan penyedia layanan eksternal.

Tidak semua sistem harus sepenuhnya terisolasi. Dalam beberapa kondisi, koneksi tetap diperlukan untuk pemantauan dan pemeliharaan.

Organisasi perlu menentukan sistem mana yang membutuhkan air gap penuh, mana yang cukup menggunakan segmentasi ketat, dan bagaimana akses di antara lingkungan tersebut dikendalikan.

Langkah Mengamankan Lingkungan Air-Gapped

Air gap paling efektif ketika disertai kebijakan operasional dan kontrol teknis yang konsisten. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan organisasi:

  1. Kendalikan penggunaan USB dan media eksternal. Batasi perangkat yang boleh digunakan, periksa media sebelum dipakai pada sistem terisolasi, dan terapkan prosedur pemindahan berkas yang terdokumentasi.
  2. Terapkan pembaruan secara terkendali. Siapkan proses untuk memverifikasi sumber dan integritas pembaruan sebelum dipindahkan ke lingkungan offline. Hindari penggunaan perangkat pribadi atau media yang tidak diketahui asal-usulnya.
  3. Gunakan perlindungan endpoint yang mendukung lingkungan offline. Pastikan sistem tetap dapat menjalankan fungsi keamanan meskipun tidak terhubung ke layanan cloud atau internet. Perhatikan pula bagaimana pembaruan mesin deteksi dan informasi ancaman disediakan secara aman.
  4. Pantau aktivitas di dalam jaringan. Isolasi eksternal tidak menghilangkan kebutuhan untuk memantau perubahan konfigurasi, perilaku proses, penggunaan perangkat eksternal, dan aktivitas akun.
  5. Batasi akses fisik dan hak pengguna. Hanya personel berwenang yang boleh mengakses perangkat, port USB, ruang server, serta konsol kendali.
  6. Uji pemulihan dan cadangan secara berkala. Simpan cadangan yang terlindungi dari perubahan tidak sah dan pastikan proses pemulihan dapat dijalankan. Cadangan yang tersedia tetapi tidak dapat dipulihkan belum memberikan ketahanan yang memadai.
  7. Latih karyawan dan kontraktor. Berikan panduan tentang penanganan media penyimpanan, pemeriksaan berkas, dan prosedur pemeliharaan agar lingkungan terisolasi tidak menjadi sasaran melalui kelalaian manusia.


Baca juga: Penipuan ClickTok Mengintai Pengguna TikTok Shop

Peran Solusi Keamanan dalam Lingkungan Terisolasi

Organisasi yang mengoperasikan infrastruktur kritis perlu memilih solusi keamanan berdasarkan kondisi jaringan dan kebutuhan operasionalnya. Untuk lingkungan yang benar-benar terisolasi, perlindungan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada koneksi internet yang selalu tersedia.

ESET menyediakan opsi penerapan keamanan untuk lingkungan dengan kebutuhan isolasi ketat melalui ESET Private Air-Gapped Solutions. Pendekatan ini ditujukan untuk membantu organisasi menerapkan perlindungan berlapis pada lingkungan yang memiliki keterbatasan konektivitas.

Dalam penerapannya, organisasi tetap perlu memastikan proses pembaruan, pengelolaan kebijakan keamanan, pemantauan, dan penanganan insiden sesuai dengan kondisi offline yang digunakan. Solusi keamanan juga perlu dipadukan dengan kontrol fisik, pengelolaan USB, segmentasi jaringan, dan prosedur pemulihan.

Perlu dipahami bahwa perangkat keamanan tidak menjadikan air gap kebal terhadap serangan. Efektivitas perlindungan bergantung pada konfigurasi, pemeliharaan, proses pemindahan data, serta disiplin pengguna dalam mengikuti prosedur yang ditetapkan.

Kesimpulan

Air gap merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi paparan sistem kritis terhadap serangan berbasis jaringan. Namun, insiden Stuxnet dan GoldenJackal menunjukkan bahwa pemisahan fisik tidak cukup apabila perangkat USB, proses pemeliharaan, atau aktivitas manusia masih membuka jalur masuk ke lingkungan yang dilindungi.

Organisasi perlu memperlakukan air gap sebagai bagian dari strategi keamanan berlapis, bukan sebagai pengganti seluruh kontrol keamanan lainnya. Dengan mengendalikan pertukaran data, menjaga perlindungan tetap berfungsi secara offline, memantau aktivitas internal, dan menguji pemulihan secara berkala, organisasi dapat memperkuat ketahanan sistem sekaligus mengurangi risiko gangguan terhadap layanan penting masyarakat.




Baca artikel lainnya:




Sumber berita:

WeLiveSecurity