Server Bing Diobok-obok File SVG

Image credit: Magnific

Server Bing Diobok-obok File SVG – Layanan pencarian gambar milik Microsoft, Bing Image Search, sempat memiliki dua kerentanan kritis yang memungkinkan penyerang menjalankan perintah berbahaya pada server pemrosesan gambar hanya dengan memanfaatkan sebuah file SVG yang telah dimodifikasi.

Kerentanan tersebut berhasil ditemukan oleh peneliti keamanan dari perusahaan riset keamanan siber sebelum akhirnya diperbaiki Microsoft pada Maret 2026.

Dua celah keamanan tersebut terdaftar sebagai CVE-2026-32194 dan CVE-2026-32191, masing-masing memperoleh skor 9,8 berdasarkan Common Vulnerability Scoring System (CVSS), yang menunjukkan tingkat keparahan sangat tinggi.

Meskipun Microsoft telah menutup celah tersebut dari sisi server sehingga pengguna tidak perlu melakukan pembaruan apa pun, kasus ini menjadi pengingat penting bahwa komponen pemrosesan gambar dapat menjadi pintu masuk serangan siber yang sering kali diabaikan.

File Gambar yang Bukan Sekadar Gambar

Berbeda dengan format gambar seperti JPEG atau PNG, Scalable Vector Graphics (SVG) sebenarnya merupakan dokumen berbasis XML.

Selain menyimpan informasi grafis, SVG juga dapat memuat referensi ke sumber daya lain sehingga memerlukan proses parsing yang lebih kompleks.

Dalam kasus ini, peneliti menemukan bahwa sistem pemrosesan gambar Bing memperlakukan file SVG sebagai gambar biasa.

Namun, saat file tersebut diproses menggunakan ImageMagick, sebagian isi SVG diteruskan ke komponen eksternal (delegate) yang menjalankan perintah melalui shell.

Akibatnya, data yang seharusnya hanya dibaca sebagai referensi gambar justru dieksekusi sebagai perintah sistem operasi.

Kerentanan ini memungkinkan penyerang menjalankan perintah pada server dengan hak akses sangat tinggi, yakni NT AUTHORITY\SYSTEM pada server Windows maupun root pada server Linux yang menangani pemrosesan gambar.

Baca juga: Pengguna Windows Hati-hati Ancaman Siber Ini

Dua Jalur Serangan Berbeda

Peneliti mengidentifikasi dua metode berbeda untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut.

  1. Melalui fitur Search by Image, penyerang mengunggah file SVG berbahaya ke endpoint pemrosesan gambar Bing.
  2. Melalui URL gambar, penyerang hanya perlu mengirimkan alamat (URL) yang mengarah ke file SVG berbahaya. Server Bing secara otomatis mengambil file tersebut menggunakan proses internal (crawler) sebelum memprosesnya.

Kedua metode tersebut tidak memerlukan autentikasi, akun pengguna, maupun interaksi tambahan dari korban.

Bahkan, respons yang diterima pengguna sering kali hanya berupa kesalahan (HTTP 500 Internal Server Error), sementara proses berbahaya tetap berlangsung di belakang layar.

Masalah Berasal dari ImageMagick

Akar permasalahan bukan terletak pada fitur pencarian Bing itu sendiri, melainkan pada konfigurasi ImageMagick, perangkat lunak populer yang digunakan untuk memproses berbagai format gambar.

ImageMagick mendukung mekanisme delegate, yaitu kemampuan untuk menyerahkan pemrosesan format tertentu kepada program eksternal.

Apabila fitur ini tidak dikonfigurasi dengan benar, file yang dirancang khusus dapat memanfaatkan mekanisme tersebut untuk menjalankan perintah sistem operasi.

Kasus ini mengingatkan kembali pada insiden ImageTragick (CVE-2016-3714) yang pernah menghebohkan dunia keamanan siber satu dekade lalu.

Meskipun kerentanan lama tersebut telah lama diperbaiki, pola serangan serupa kembali muncul akibat konfigurasi yang kurang aman pada sistem pemrosesan gambar.

Microsoft Sudah Menutup Celah

Microsoft telah memperbaiki kedua kerentanan tersebut sebelum informasi teknis dipublikasikan kepada masyarakat. Berdasarkan catatan resmi, tidak ditemukan bukti bahwa celah tersebut telah dieksploitasi secara aktif sebelum perbaikannya dirilis.

Karena seluruh perbaikan dilakukan pada sisi server, pengguna Bing tidak perlu menginstal pembaruan atau melakukan mitigasi tambahan.

Namun demikian, teknik serangan yang digunakan menunjukkan bahwa parser gambar dan pustaka pemrosesan media dapat menjadi bagian dari attack surface yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Baca juga: Mengenali dan Menghindari Jebakan Penipuan Digital

Pelajaran bagi Organisasi

Bagi organisasi yang menggunakan ImageMagick atau perangkat lunak serupa untuk memproses file yang diunggah pengguna, terdapat beberapa langkah mitigasi yang sangat disarankan, antara lain:

  1. Menonaktifkan fitur delegate yang tidak diperlukan melalui konfigurasi policy.xml.
  2. Membatasi format file yang dapat diproses, terutama format kompleks seperti SVG, MVG, dan EPS.
  3. Meninjau kembali konfigurasi delegates.xml dan menonaktifkan pemrosesan eksternal yang tidak digunakan.
  4. Menjalankan layanan konversi gambar di lingkungan sandbox dengan hak akses minimum.
  5. Membatasi akses jaringan keluar (outbound network access) dari server pemrosesan gambar.
  6. Menerapkan daftar tujuan (allowlist) apabila server harus mengambil file dari internet agar tidak dapat mengakses jaringan internal.

Target Komponen Pendukung

Insiden ini menunjukkan bahwa ancaman siber tidak selalu berasal dari aplikasi utama, tetapi juga dari komponen pendukung seperti parser dan pustaka pemrosesan gambar.

File SVG yang tampak tidak berbahaya dapat berubah menjadi media eksekusi perintah apabila diproses oleh sistem dengan konfigurasi yang tidak aman.

Bagi pengembang dan administrator sistem, keamanan tidak cukup hanya berfokus pada aplikasi yang terlihat oleh pengguna.

Seluruh rantai pemrosesan, termasuk perangkat lunak pihak ketiga seperti ImageMagick, harus diperlakukan sebagai bagian penting dari permukaan serangan (attack surface).

Dengan menerapkan konfigurasi yang aman, pembatasan hak akses, serta isolasi lingkungan pemrosesan, organisasi dapat meminimalkan risiko eksploitasi terhadap komponen yang sering kali luput dari perhatian.

 

 

 

Baca artikel lainnya: 

 

 

Sumber berita:

 

Prosperita IT News