Gonjang-ganjing Peretasan KPU

Digitalmania – Pilkada DKI Jakarta memang penuh dengan pernak-pernik yang menjadi sorotan semua mata di seluruh Indonesia. Gaung pilkada ini sudah ramai sejak masa kampanye yang penuh dengan gejolak, intrik dan taktik dari masing-masing pasangan calon Gubernur untuk merebut hati warga Jakarta. Keriuhan itu pun tak berhenti di masa kampanye, usai pencoblosan keramaian Pilkada masih terus berlangsung terutama di media sosial.

Gonjang-ganjing baru yang belakangan menjadi viral adalah ketika banyak akun di Facebook bermunculan heboh dengan berita bahwa KPU sedang diserang habis-habisan oleh sekelompok hacker yang ingin membuat down server KPU. Kegaduhan ini cukup membuat gempar dunia maya, dan tidak sedikit orang percaya bahwa serangan tersebut benar terjadi.

Salah satu akun mengaku bahwa ada 30 orang sedang menyerang situs KPU, sambil menunjukkan screenshot Traceroute serangan, sementara akun yang lain mengatakan penyerang menggunakan enam lapis proxy dan menyerang dengan mengirim jutaan traffic dalam hitungan menit, akun yang sama juga menyatakan telah berhasil mendeteksi IP hacker dan mensinyalir IP tersebut berasal dari Singapura, Vietnam dan Tiongkok.

Akun Kang Ici yang menggunakan profil pic anonymous bahkan meminta bantuan para pengguna komputer untuk ikut bergabung melindungi KPU sambil mencantumkan IP 112.215.71.242 yang menurutnya merupakan IP KPU.

Mereka yang mengaku sedang melindungi KPU menyebut diri mereka sebagai Muslim Cyber Army mengaku sedang mempertahankan situs KPU dari kebocoran port karena di serang oleh hacker-hacker dari Cina, Vietnam, dan Singapura dan mengesankan upaya peretasan itu merupakan bagian dari upaya manipulasi suara untuk memenangkan salah satu pasangan calon Gubernur.

Tapi benarkah telah terjadi peretasan terhadap situs KPU? Mungkin bagi mereka yang awam akan dengan mudah mempercayai kabar serangan siber yang terjadi, dan menyakini akun-akun yang bertindak sebagai pelindung KPU itu sedang berjuang dengan heroik melawan hacker dari luar.

Namun kenyataannya bila kita telaah lebih dalam, setiap pernyataan dan bukti screenshot yang diunggah sebagai bukti penyerangan tidak lebih dari sebuah hoax yang dua tahun terakhir ini marak terjadi media sosial, apalagi jika berdekatan dengan pemilu atau pilkada. Berikut alasan kenapa kabar serangan hacker kepada situs KPU adalah hoax:

  • Sistem komputer dan port jaringan tidak bekerja dengan tambal-menambal, port sendiri umumnya di block melalui firewall yaitu sistem keamanan jaringan dan ini di lakukan pada sisi server bukan pada sisi client atau dari orang luar.
  • Ditambah lagi jika port di blok sembarangan kemungkinan servernya bisa error, karena tiap port umumnya memiliki fungsinya tersendiri
  • IP yang di sebutkan 112.215.71.242 adalah IP punya pelanggan XL (excelcomindo) jadi bukan IP server atau IP domain KPU.
  • Menurut KPU sendiri tidak ada kebocoran atau peretasan pada situs mereka, seperti yang dilansir CNNIndonesia, Konsultan IT KPU Harry Sufehmi, dari Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Pusilkom) UI, membantah fitnah yang menyebut situs KPU dijebol oleh hacker Tiongkok, sehingga suara ahok menjadi naik.

Mengenai serangan yang menggunakan proxy berlapis enam juga sebuah pernyataan yang tidak benar, karena proxy sebenarnya fungsi sederhananya seperti sebuah saluran jaringan, dan proxy tidak berlapis-lapis, apalagi sampai mengirimkan jutaan traffic dalam hitungan menit, mungkin yang dimaksud adalah serangan DDoS, namun serangan DDoS sendiri saat ini tidak dilakukan dengan cara seperti demikian.”

Jadi jelas berita mengenai serangan siber pada situs KPU adalah hoax yang sengaja disebarkan oleh akun-akun yang tidak bertanggung jawab dengan cara sistematis dan masif untuk terus membuat kegaduhan yang mungkin dengan tujuan-tujuan politis. Digitalmania. (AN)